• Jumat, 1 Juli 2022

Gowes Dapat Memicu Serangan Jantung Mendadak, Benarkah.

- Rabu, 17 November 2021 | 10:03 WIB
ilustrasi bersepeda (pixabay)
ilustrasi bersepeda (pixabay)

Bersepeda atau gowes sudah menjadi tren di masyarakat saat ini. Baik untuk masyarakat yang ingin berolahraga, mau pun yang ingin mengubah lifestyle menjadi lebih sehat dan rendah emisi karbon. Selain itu, bersepeda juga menjadi salah satu upaya olahaga yang bertujuan untuk meningkatkan system imun.

Bersepeda atau gowes memiliki banyak manfaat terutama dalam kesehatan jantung. Studi oleh WHO yang menggunakan model ukur kesehatan yang dihubungkan dengan gaya hidup menunjukkan, populasi yang bersepeda setiap hari menuju ke tempat kerja terjadi penurunan mortalitas sebanyak 28%. Studi lainnya menunjukkan, bersepeda selama 60 menit setiap minggu dikaitkan dengan penurunan mortalitas akibat penyakit kardiovaskuler sebesar 19%.1

Perlu dilakukan skrining terlebih dahulu pada individu yang suka gowes apakah termasuk kedalam kategori yang berisiko terkena serangan jantung atau tidak. Diantaranya yang berisiko terkena serangan jantung adalah individu yang memiliki penyakit jantung sebelumnya, baik itu riwayat serangan jantung, stroke, riwayat nyeri dada dan sesak nafas saat beraktifitas, riwayat pingsan mendadak atau riwayat henti jantung, riwayat kelainan katup jantung, atau pun gangguan irama jantung. Bagi individu yang masuk kedalam kategori tersebut sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter spesialis jantung.2

Bagi individu yang tidak memiliki risiko tersebut, ada baiknya mendapatkan skrining terlebih dahulu seperti pemeriksaan EKG, ekokardiografi, ataupun treadmill test untuk menentukan intensitas bersepeda yang aman. Sebaiknya berolahraga dimulai dengan intensitas sedang dan dapat dinaikkan bertahap. Cara menentukan intensitas tersebut dapat dengan mudah kita lakukan dengan menghitung nadi maksimal dengan cara 220-usia. 

Dengan intensitas yang sedang dapat kita lakukan hingga mencapai 55-74% dari nadi maksimal. Sedangkan untuk intensitas berat dapat kita lakukan hingga mencapai 75-90% dari nadi maksimal. Jika perlu monitor laju jantung dengan heart rate monitor. Jika merasakan tanda dan gejala serangan jantung saat berolahraga ada baiknya untuk segera beristirahat, jangan panik, menenangkan diri dan meraba nadi. Bersepeda tetap boleh dilakukan dengan memperhatikan laju jantung dan intensitas yang sesuai dengan individu.2

 

Referensi:                                                                           

  1. Sahlqvist S, Goodman A, Simmons RK, et al. The association of cycling with all-cause, cardiovascular and cancer mortality: findings from the population-based EPIC-Norfolk cohort. BMJ Open 2013;3:e003797.
  2. Pelliccia A, Sharma S, GatiS,et al. 2020 ESC Guidelines on sports cardiology and exercise in patients with cardiovascular disease. European Heart Journal (2021) 42,17-96.

 

Disusun oleh: dr. Imy Ginting, M.Ked (Cardio), SpJP, FIHA - RSUD Malingping, Lebak, Banten

Editor: Anton Nugraha

Sumber: PERKI Banten

Tags

Terkini

BPOM : Vaksin Booster Covid-19 Meningkatkan Antibodi

Senin, 10 Januari 2022 | 19:05 WIB

BPOM Beri Izin 5 Vaksin Covid-19 untuk Booster

Senin, 10 Januari 2022 | 18:35 WIB

BAZNAS Bangun Pos Kesehatan Korban Erupsi Semeru

Minggu, 5 Desember 2021 | 15:13 WIB

Vitamin K2 Sehatkan Tulang dan Jantung

Minggu, 5 Desember 2021 | 10:00 WIB

Jahe Manfaat untuk Kesehatan dan Ampuh tangkal Mual

Sabtu, 4 Desember 2021 | 14:00 WIB

10 Cara Alami Turunkan Kolesterol Jahat Tanpa Obat

Sabtu, 4 Desember 2021 | 13:00 WIB

5 Makanan Yang Cocok disaat Sakit

Selasa, 23 November 2021 | 16:52 WIB
X